Sabtu, 18 Oktober 2008

cerpen (no title)

mendung di kawasan garut kota kini
hanya bunyi mesin mesin kendaraan yang aus dan suara burung burung gorejra yang baru kawin bulan kemarin
aku mendelik menatap kawanku yang sejak tadi berguling-guling tenggelam dalam sofa merah buatan abang-abang yang bekerja di rumahku.
"hai...Bie, resah banget sikap mu?"
" cari posisi mantep, susah banget"
" biasanya juga telungkupan.......HIx....." guyonku menanggapinya
bentuk bibirnya mulai asimetris sambil mendengus ia bangkit dan perasaan ku mulai tak nyaman. dia menatapku sambil menggerak gerakan alis matanya naik turun. kini jiwaku merasa terancam dalam waktu singkat impuls syaraf parasimpatik menjalar dari batang otak keseluruh tubuh dan berpuncak pada otot motorik tangan ku. aku melempar dua buah bantal sekaigus tepat kearah wajahnya.
BLUGH.......
muka bodohnya tampak kusut setelah saat beberapa bantal itu berjatuhan di atas lantai.
abie melongo menatapku serius
"chil jangan gila dong, emang sih sperm di produksi kelenjar prostat 3 hari sekali terlebih hari ini dingin, tapi menurut abie kamu tuh kaya laki walaupun pake kerudung warna-warni tapi tetep aja gak bikin selera tau......BT banget hari ini. baru aja abie dapat ide biat jalan kerumang mang ukup sekalian kita bisa on line gratis disana ( cari tulang rusuk abie yang ilang, keburu di makan kucing) .......dasar otak jorok." kesal abie
matanya berkedip-kedip tampak menahan nyeri, mungkin beberapa debu masuk kedalam bola matanya, hidungnya pun mulai kemerahan.
memang aku keterlaluan soal ini, melempar bantal sepadat itu langsung kearah mukannya."sial kali hari ini" desahku
dengan perasaan bersalah yang amat sangat aku minta maaf dan menyodorkan sebotol air putih cap VIT olala, untuk membasuh matanya supaya tidak terlalu pedih.
" makasih neng, lain kali tuh otak disikat sekalian pas mandi biar bersih"
senyum mungilnya merekah sontak membentuk langkungan indah dengan perhitungan kurva cartesius yang gemulai di bibirnya. dia tampak bak malaikat dengan berjuta juta kelip bintang di wajahnya. membuat setiap wanita yang menatapnya meleleh. namun saat rol video memutar keindahan itu tiba-tiba rol itu koslet saat gingsulnya mulai tampak di balik bibir yang semakin merekah.
-#-
tak banyak yang kami bicarakan. ucapan-ucapan filosophis yang biasa mengalir dalam fikirannyapun tidak lahir. kami hanya menatapi seetiap manusia yang mulai tertinggal di balik jendela angkot yang melaju dengan kecepatan antara 40-60 Km/jam
Sepi.............
aku menatap wajahnya yang muram. kerutan di dahi dan sekitar pipinya menunjukan bahwa ia sedang kecewa terhadap sesuatu, tapi aku tak berani bertanya-tanya hanya mencuru-curi waktu menatap wajhnya yang semrautan.
"kiri............."
kami berhenti tepat di depan gapura rumah mang ukup. dengan sigap abie menarik uang recehan terakhir dari kantung jins lapuknya kemudian menyerahkan 4 lembar uang seribuan sebagai ongkos cipanas-garut kota untuk 2 orang.
"chil.....gak jadi on line nya ya......" ucapnya perlahan
" hah.....bukannya mau cari tulang rusuk abie yang hilang" timpalku bercanda
" kita jalan, start dari sini sampe rumah"

terkadang ada beberapa hal yang sulit dimengerti olehku.tapi jalan dari rumah mang ukup sampai rumahku tidak begitu jauh (IRONI)1000 langkah sehat jantung, fikirku.abie mulai melangkah dan aku seperti ayam kalkun yang cuma manut-manut mengikuti setiap kebodohannya ya.....paling tidak sindencho bilang "persahabatan sperti kepongpong"
dan kami adalah kepongpong yang indah.

"chil....."
abie memulai pembicaraan, dengan tangan disaku dia berjalan tegap disampingku
"sebenarnya besok abie berangkat kelampung, ada pekerjaan dari saudara paman abie. jadi anak lulusan SMK emang sulit cari kerjaan enak. paling enggak abie mau cari uang halal dari sekarang buat keturunan abie suatu saat nanti"
aku menatap abie dengan serius danmulai berfikir mungkin itu yang membuatnya gelisah sejak dari tadi pagi.
" sekalian cari tulang rusuk" lanjutnya, sembari tertawa-tawa kecil
"agak aneh ya.......kita bisa terlalu cepat dewasa, rasanya baru kemarin lahir dari kandungan ibu" desahnya
" saat usia muda, jiwa ini begitu berapi-api. namun saat semakin tua hari-hari mencapai titik konstan, tuntutan hidup yang sama seperti bapak dan ibu kita. padahal abie belum sempat..........."
ucapanya terputus sampai disitu.............

"chil lariya.....supaya ceper sampe rumah"
aku linglung seperti orang bego. jarak abie dan aku semakin jauh dan baru aku tersadar kalau kau harus segera menyusulnya sebelum ia semakin jauh.
aku terpogoh-pogoh dengan langkah yang terselok-selok. aku menyerah, nafas ku terlalu pendek untuk mengejarkuda jantan dengan otot kayu jati seperti abie.
"cukup..."fikirku " dasar orang gila"
aku menyerah pada kemampuanku, itulah yang biasa aku lakukan dalam rutinitas hidup. kemudian aku mengambil jalan pintas untuk segera sampai rumah dengan mengendarai angkot yang jalurnya sama dengan arah abieberlari. aku terus mengawasi setiap trotoar namun kosong tidak ada tanda-tanda abie berlari di sekitar situ. aku menyesal tak sampai menyusulnya.

Hari itu adalah hari terakhir tanda-tanda kehadran abie. dan kata-kata yang tak sampai hingga sekarang tidak ada yang tau ( hanya abie dan tuhan yang agung yang tau semua itu). aku tau aku telah kehilanganmu.

Dear Sahabatku :
" berhari-hari aku memikirkan kejadian aneh itu. dan siang ini aku menemukan jawabannya. karena siang ini aku berhasil membongkar suatu rahasi. sekarang aku mengerti mengapa hukum membolehkan orang berusia 18 tahun keatas menimbuni dirinya dengan berupa rupa kebobrokan. sebab pada usia itu manusia sudah bisa bersikap realistis. itulah rahasia yang kutemukan. ajaib , bagaimana manusia meningkat dari satu situasi moral ke situasi moral lainnya. hari ini sayap-sayap keciltumbuh di badan ulat kepongpong, aku bermetamorfosis dari remaja kedewasa. aku dipaksa oleh kekuatan alam untuk melompati garis dari menggantungkan diri menjadi mandiri. aku dipaksa belajar tanggung jawab pada diriku sendiri. satu lapisan tipis seolah tersingkap di mataku membuka tabir filosophis yang pasti menjadi orang dewasa yaitu :hidup menjadi semakin tidak mudah. (sang pemimpi, Andrea Hirata)

Kamis, 16 Oktober 2008

mentega putih

pagi-pagi dengan semangat combath aku bangun dengan sigap, mengosok kedua mataku dan mengepulkan sedikit uap panas dari mulutku.
HOAH..........
masuk jamban seleboran , gosok gigi, cuci muka trus wudhu buat shalat shubuh.

rutinitas emang biasa hari ini cuman sapu-sapu lantai, ngepel trus cuci piring, mandi , sarapan, terakhir go to campus dengan abangk ojek yang kaya taxi. sekali panggil lewat telepon langsung dateng ma speda motor merek supra bayarannya pun gak terlalu mahal cuma Rp. 3000

pagi yang cerah dengan cicit-cicit burung yang baru kawin
suara merdu mamih fa ngiang-ngian di dapur deket kolam. efa yang lagi senengnya beres makan kue tart kaget minta ampun......
"efa........................naha bet buang mentega ka balong, alah.......maraot tah siah lauk,kamari oge maot 12 tah,anu araggeung...aduw............."
adek fa yang kecil nengok tau suara merdu itu dari dapur....................
emang dasar anak kecil tukang ngadu...........................babeh fa dateng dengan gaya koboi sambil bawa pecut, suaranya parauw dengan geraman di mulutnya.
" efa.................turun kabalong......................candakan tah mentega...................buruuuuuuuuuuu................"
dengan kesal dan memelas, untung fa punya hati yang baik, pertama jari fa trus kaki fa yang turun masuk kedalam kolam ikan dengan air berwarna putih tapi yang tampak di permukaan cuma hitam. mentega-mentega putih mengapung di atas kolam bersama kerupuk-kerupuk lepek yang di buang adek kecl fa buat makanan ikan,,,,.
mentega putih yang seiprit gak bakal ngerubah konstrasi air kolam jadi lautan minyak.......... tuh
desah ku, sambil cekikikan.
"efa..................sura seri..............deuih nya"
babeh fa senyam-senyum seakan puas ngerjain fa.......
dengan terpaksa fa siukin tuh mentega tiap milinya ke dalam gayung dengan diameter kurang lebih 19 cm.
wuih...............................HARI YANG ANEH